-->
  • Jelajahi

    Copyright © GHSNEWS.ID | BERITA INDONESIA TERKINI
    Best Viral Premium Blogger Templates
    CLOSE ADS
    CLOSE ADS

    JSON Variables

    Menu Bawah

    Fenomena Air Laut Warna Hijau Di Selayar, Ini Kata Pakar

    GHSNews.id
    Kamis, 19 Januari 2023, 00.51 WIB Last Updated 2023-01-18T17:51:51Z

    GHSNEWS.ID | SELAYAR — Berubahnya warna air laut dipantai Bonea Benteng hingga pantai Appabatu di Desa Parak, selayar sejak Selasa (17/1/2023) kemarin mendapat perhatian banyak pihak. 

    Seperti yang terjadi pada Rabu (18/1/2023) pagi, warga ramai berada di pantai Benteng Utara menyaksikan berubahnya warna air laut menjadi hijau, bahkan mengeluarkan bau tidak sedap menyengat hidung. 

    Pakar Lingkungan Biota Laut Universitas Bung Hatta (UBH), Dr Harfiandri Damanhuri menduga fenomena air laut yang berubah warna hijau itu karena faktor perubahan iklim.

    "Perubahan iklim dan suhu yang tidak menentu mempengaruhi arus laut, sehingga pergerakan masa air tidak lagi normal, lalu terjadi Blooming Alga," katanya.

    Blooming alga merupakan suatu peristiwa dimana jumlah alga yang berada di perairan membludak jumlahnya, dalam peristiwa yang berwarna hijau berarti alga hijau. Karena masing-masing alga mempunyai warna bawaannya sendiri.

    Alga adalah hewan mikroskopik yang menyerupai tumbuhan dan merupakan organisme yang umumnya terdapat di perairan di sinari cahaya matahari. Perubahan iklim dan suhu yang tidak menentu ditenggarai mempengaruhi pergerakan masa air, dan alga hijau bermunculan di permukaan laut yang memiliki karakter tropis.

    "Sebenarnya alga atau fitoplankton yang bersiklus mati-hidup adalah siklus yang biasa dan sering terjadi di laut tropis," jelasnya. Namun, lanjutnya, karena perubahan iklim, intensitas cahaya yang tidak normal di permukaan, dan perubahan suhu mengakibatkan terjadinya blooming.

    Menurutnya peristiwa blooming alga itu harus segera dibersihkan dari laut, karena dikhawatirkan mempengaruhi kadar oksigen bagi makhluk hidup lain, salah satunya ikan.

    Ia menyarankan alga itu dibawa ke luar laut dan dijemur, lalu usai proses pembusukannya jangan dibuang lagi ke laut. Untuk penanganan jangka panjang, katanya, adalah menghentikan pembabatan serta penggundulan hutan yang mempunyai peran menjaga iklim global.

    Sementara itu, dari selayar dilporkan banyak warga yang melihat perubahan warna air laut. Warga juga ikut menangkap ikan-ikan kecil yang mulai teler dan mati dipantai tersebut. Bahkan di bibir pantai Appabatu banyak ikan-ikan yang biasa bermain ditengah laut mati terdampar dipantai tersebut. 

    "Sejak kemarin ini air laut berubah menjadi hijau dan berbau menyengat, kami disini sudah tidak tahan baunya. Tambah lagi pagi sudah banyak ikan mati dipantai, yang dipunguti sama warga yang datang melihat perubahan air laut," jelas seorang warga Benteng yang ikut menyaksikan perubahan warna air laut dipantai Bonea.

    Tidak sedikit warga yang berada dibibir pantai ikut turun ke laut menangkap ikan yang terlihat mabuk dan ikan mati yang sudah terdampar ikut diambil warga. 

    Petugas laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Selayar telah melakukan pengambilan sampel air laut dan ikan mati untuk diperiksa, namun hasil lab akan diketahui dua hingga tiga hari kedepan, jelas Jurana Ali, Kepala UPTD. Laboratotium Lingkungan Hidup Selayar. 

    Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Selayar, Agus Salim, yang turun ditengah warga melarang warga yang mengambil ikan mati agar tidak mengkonsumsinya, apalagi menjualnya dipasar, sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar. Antisipasi keracunan yang diakibatkan oleh limbah beracun atau pestisida diwilayah perairan Selayar. Namun warga tetap mengambilnya.(R/bw/cok). 

    Komentar

    Tampilkan

    Berita Terbaru