Tradisi Unik Desa Duda Kecamatan Selat -->

Advertisement

Tradisi Unik Desa Duda Kecamatan Selat

GHSNews.id
Minggu, 19 September 2021


Siat Api, Berperang Dengan Saling Melempar Api Guna Menetralisir Pengaruh Negatif

GHS NEWS ■ Bicara soal tradisi di Bali khususnya di bagian Timur Bali seperti tidak ada habisnya. Tiap-tiap daerah di Kabupaten Karangasem memiliki tradisinya masing-masing. Seperti tradisi di  Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, memiliki tradisi unik berupa atraksi bertajuk Siat Api. 

Tradisi ini dilaksanakan serangkaian upacara Metabuhin di Pura Puseh/Bale Agung Desa Adat Duda yang merupakan awal dari digelarnya berbagai ritual yang dilaksanakan kerama desa Duda. Pelaksanaannya biasa dilakukan 1 bulan sebelum perayaan Nyepi. Dimana pesertanya ialah para yowana yang berasal dari 2 kubu yakni kubu dari Barat Tukad Sangsang dan Timur Tukad Sangsang. 

Dengan berbekal senjata prakpak yang berjejer di lebuh paumahan kerama sehabis "metektek prus" yang digunakan untuk melakukan ritual "perang"/"siat" yakni untuk memukul lawan.

Diiringi tetabuhan baleganjur yang menghentak menyemangati para pemeran dalam atraksi siat api, peserta saling menyerang sambil menari-nari. Di sinilah bentuk kolaborasi unsur seni dan mistis menyatu padu di senja hari menjelang malam.

Ajaibnya para peserta pun tak akan mengalami luka, seringkali hanya bercak-bercak merah di punggung dari percikan api lidi prakpak dan kotoran arang prakpak yang digunakan senjata me-siat. 

Ditiap ronda siat api diakhiri dengan sorak sorai dari kedua kubu dan para penonton yang menyaksikan atraksi ini diiringi tetabuhan baleganjur yang semakin gegap gempita. Siat ini dilakukan minimal sebanyak tiga putaran dan diselingi dengan istirahat, putaran berikutnya kembali menari dan dilanjutkan saling menyerang dengan senjata prakpak dan diakhiri dengan sorak sorai kegembiraan dari kedua kubu yang disemangati dengan tabuh baleganjur.

Siat api dilaksanakan di atas jembatan Tukad Sangsang yang melintasi wilayah Desa Adat Duda yang juga digunakan batas Desa dinas Duda dengan Desa dinas Duda Timur.

Atraksi berbahaya ini dilaksanakan sebagai euforia menyambut Usaba Desa Adat Duda, juga rangkaian perayaan menjelang hari Raya Nyepi, yakni 1 bulan sebelum Nyepi. Jero Komang Sujana, Bendesa Adat Duda Timur menjelaskan makna dari euforia Siat Api ini ialah untuk menetralkan atau meredam api amarah yang ada pada diri manusia beserta alam semesta. 

Sejatinya siat api ini dilaksanakan bukan dalam situasi kerusuhan yang didasari amarah melainkan dilaksanakan oleh kerama khususnya generasi muda dalam situasi kegembiraan penuh suka cita karena telah berhasil mengusir pengaruh-pengaruh jahat dari dalam diri manusia dan lingkungan desa. Walaupun kelihatannya dilakukan secara sungguh-sungguh namun api prakpak itu tidak akan berpengaruh buruk sampai melukai kerama yang mesiat.

Kerama Desa Adat Duda percaya, jika perang ini tidak dilaksanakan, maka akan menimbulkan bencana atau wabah. "Pernah terjadi wabah ketika tidak melaksanakan siat api ini, meski dampaknya kecil. Jadi kita bangkitkan lagi Siat Api, juga sebagai warisan budaya leluhur yang harus kita lestarikan," ujarnya.

Tradisi ini juga termasuk dalam serangkaian Usaba di Desa Adat Duda. Tradisi lain yang mengiringinya ialah  Usabha Dodol, Usabha Bangket, Mendak, Nyungsung, Usabha Kapat dan upacara lainnya yang diselenggarakan di Parhyangan Desa Adat Duda.

Rangkaian awal dalam pelaksanaan Siat Api ini ialah melaksanakan upacara metabuhin yang bertujuan sebagai pembersihan secara niskala seluruh wilayah kekuwub Desa Adat Duda yang meliputi 27 banjar adat. Metabuhin ini diawali dengan petedunan Desa Pitulikur (27) untuk mempersiapkan sesajen termasuk salah satunya membuat olahan mangong sebagai salah satu sarana unik  dalam upacara ini. Olahan mangong ini khusus dibuat di sebuah bagunan saka pat suci di Jaba Sisi/teben yang dikenal dengan Bale Mangong.

Metabuhin juga dipercaya sebagai pembersihan secara niskala yang disimboliskan melalui sebuah ritual untuk menghilangkan keletehan dan sarwa mala yang sempat mencemari wilayah desa. Pelaksanaan ritual ini merupakan langkah awal kerama desa akan menyelenggarakan upacara atau ritual lainnya dalam kurun waktu setahun kedepan. Dengan pelaksanaan ritual ini diyakini akan memberikan suasana baru dalam kehidupan kerama desa.

Setelah upacara metabuhin di Pura Puseh/Bale Agung selesai kerama desa selanjutnya melaksanakan upacara di masing masing sangar/sanggah/merajan paumahan dengan menghaturkan sesaji dan memuliakan para leluhur untuk memohon bimbingan, keselamatan dan kesejahteraan. Kemudian dilanjutkan dengan Upacara Manusa Yadnya yakni natab/ngayab banten yang piranti utamanya adalah ketupat sirikan.

Setelah upacara natab dilanjutkan lagi dengan prosesi "metektek prus" yang dipercaya bisa  mengusir kala atau roh-roh jahat atau pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan parhyangan perumahan. Tek-tek prus dilakukan dengan memukul-mukul bilah bambu hingga mengeluarkan suara "tek-tek" dengan melafalkan suatu mantra yang dipercaya akan mengusir energi negatif ditempat-tempat dipukulnya bambu tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan semburan dari mulut dengan sarana garam atau tuak atau arak mengikuti pukulan tek-tek. Sarana lainnya yang digunakan adalah "prakpak" yang terbuat dari daun kelapa tua yang disulut api di pangkalnya. Api sisa inilah yang digunakan sebagai euforia Siat Api.

Siat api, walaupun disuguhkan dalam sebuah atraksi yang bisa disaksikan oleh kerama lain dari luar desa juga tamu mancanegara, diyakini tidak mengurangi makna, kesucian dan kesakralan ritual Siat Api tersebut. (BK/Ami)