-->
  • Jelajahi

    Copyright © GHSNEWS.ID | BERITA INDONESIA TERKINI
    Best Viral Premium Blogger Templates
    CLOSE ADS
    CLOSE ADS

    JSON Variables

    Menu Bawah

    PASAKA dan Puri Agung Cakranegara Bersatu Selamatkan Situs Sejarah

    GHSNews.id
    Sabtu, 12 Maret 2022, 10.26 WIB Last Updated 2022-03-12T03:26:34Z

    GHSNEWS.ID, NTB – Situs-situs peninggalan sejarah di Gumi Sasak Lombok harus diselamatkan, tak terkecuali peninggalan Raja Dewata Agung yang salah satunya adalah Pura Lingsar di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Komitmen tersebut ditunjukkan aliansi muda suku Sasak, yang tergabung dalam Paseban Sasak Adi atau PASAKA, yang mendukung dan berkolaborasi dengan Puri Agung Cakranegara untuk penyelamatan aset Pura Lingsar.

    Sinergi PASAKA dengan Puri Agung Cakranegara itu terwujud dalam pertemuan, pada Jumat (11/3/2022) malam, antara PASAKA dengan Majelis Agung Windu Sesukertaning Jagad (MAWSJ) Lombok, di Sekretariat MAWSJ Jalan Arjuna Cakranegara Kota Mataram.

    Ketua PASAKA HL. Sofyar Putrangga Muncar mengatakan, kolaborasi dalam penyelamatan aset peninggalan sejarah tersebut, mengingat bahwa Pura Lingsar tidak terlepas dari sejarah Raja Dewata dengan Dende Fatimah dan Dende Aminah, yang merupakan dua Putri Kedatuan Sasak yang menjadi istri raja.

    “Namun demikian, karena ini sifatnya sangat-sangat sensitif, maka dalam penyelesaian terkait aset pura yang menjadi fokus masalah saat ini, PASAKA mengedepankan kearifan lokal yang salah satunya dengan menjelaskan rentetan sejarah,” ungkapnya.

    Menurutnya, Pura Lingsar merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menyatukan dua keyakinan di satu tempat, dimana Pura Lingsar oleh umat Hindu disakralkan sebagai Pura Kahyangan Jagat yang di dalamnya juga ada Kemaliq.

    “Karena itu, PASAKA sebagai organisasi kalangan muda Sasak yang berdiri pada tahun 2012, mendukung Puri Cakranegara melalui Majelis Agung dalam upaya menyelamatkan aset-aset pura di Pulau Lombok, termasuk aset Pura Lingsar dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab,” katanya.

    “Hasil pertemuan malam ini akan kami musyawarahkan kembali di internal PASAKA, termasuk dengan Dewan Pembina PASAKA untuk menentukan langkah selanjutnya,” imbuh Lalu Sofyar.

    Sementara Pembina PASAKA L. Abdul Haris yang akrab disapa Jaya Kelana mengatakan, PASAKA sebagai organisasi yang mewadahi golongan (bangsawan) muda Sasak yang sejak didirikan, melakukan kajian sejarah Suku Sasak dengan segala piranti yang menyertainya, tentu sepakat dengan upaya MAWSJ dalam misi penyelamatan aset-aset sejarah.

    “Kita adalah ‘Saq-Saq’ (Sasak, red) yang berarti yang satu atau kita adalah satu. Tidak ada Bali dan Lombok. Karena kita sudah sepakat di sini (Pulau Lombok, red) maka kita adalah satu. Itulah yang disimbolkan oleh keberadaan pura di Lingsar,” ujarnya.

    Pada kesempatannya, Lalu Satriwan yang juga salah satu pengurus PASAKA menegaskan dukungan all out terhadap upaya dan langkah-langkah penyelamatan aset Pura Lingsar.

    “Kalau nanti tim dari Majelis Agung turun dalam melakukan penertiban aset tolong ajak kami, PASAKA. Kita tunjukkan kepada mereka, oknum-oknum yang ingin memanfaatkan aset peninggalan sejarah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, bahwa kita satu,” tegasnya.

    Sebelumnya, Ketua Majelis Agung Windu Sesukertaning Jagat (MAWSJ) Lombok I Gede Gunawan Wibisono, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan dukungan PASAKA.

    “Terima kasih yang tak terhingga, karena PASAKA sudah berkenan memberi dukungan terhadap upaya yang didelegasikan Puri Agung Cakranegara kepada kami, untuk menyelamatkan aset-aset pura khususnya Pura Lingsar, yang sudah sangat lama hasil pengelolaan asetnya tidak dikembalikan atau diberikan untuk kebutuhan pura,” ungkapnya.


    Menurut Gede Gunawan, sinergitas itu merupakan suatu anugerah yang menunjukkan persatuan dan kebersamaan, dalam pembangunan dan pelestarian adat dan budaya. Dimana antara Bali dan Sasak memiliki banyak kesamaan.

    “Pertemuan malam ini adalah awal yang akan terus berlanjut. Kita tidak ingin persatuan kita terkoyak hanya karena isu-isu yang dilemparkan oleh oknum-oknum, yang ingin mengambil manfaat untuk kelompoknya dengan melempar atau menyebarkan isu berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan antargolongan, red),” tandasnya.

    Dalam pertemuan sederhana dan penuh keakraban itu, seluruh peserta baik dari PASAKA, MAWSJ, perwakilan PHDI NTB, dan beberapa organisasi umat dan pemuda Hindu, memberikan tanggapan pemaparan yang intinya mendukung dan mengapresiasi kolaborasi tersebut.

    Komentar

    Tampilkan

    Berita Terbaru