Sedih di Hari Wisuda, Ayah dan Ibu Harus Memilih Siapa yang Mendampingi
![]() |
| Ilustarasi Wisuda |
SOPPENG — Jelang prosesi Wisuda Sarjana ke-28 STAI Al-Gazali Soppeng, sebanyak 92 mahasiswa dan mahasiswi bersiap menjalani salah satu momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka.
Namun, di balik toga, senyum dan kebahagiaan para wisudawan, terselip sebuah cerita yang mungkin menghadirkan rasa haru sekaligus kecewa bagi sebagian orang tua.
Prosesi wisuda yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Soppeng itu menerapkan ketentuan bahwa setiap wisudawan hanya dapat didampingi satu orang tua atau pendamping di dalam ruangan.
Kebijakan tersebut tentu dapat dipahami apabila berkaitan dengan kapasitas ruangan, ketertiban dan teknis pelaksanaan.
Tetapi bagi sebagian orang tua, ketentuan itu menghadirkan dilema sederhana yang tidak mudah.
Bagaimana perasaan seorang ibu ketika harus memilih antara dirinya atau ayah untuk mendampingi anaknya di hari wisuda?
Begitu pula seorang ayah. Haruskah ia memilih antara dirinya atau ibu yang selama ini bersama-sama mengantarkan anak mereka hingga meraih gelar sarjana?
Sebab, di balik keberhasilan seorang anak mengenakan toga, biasanya ada perjalanan panjang yang tidak dilalui sendirian.
Ada ayah yang bekerja membiayai pendidikan. Ada ibu yang tak pernah berhenti mendoakan. Ada orang tua yang mengantar, menunggu, memberi semangat dan berkorban dalam diam tanpa pernah menghitung berapa besar yang telah diberikan.
Wisuda mungkin hanya berlangsung beberapa jam.
Namun bagi orang tua, melihat anaknya mengenakan toga dan menerima gelar sarjana merupakan kebahagiaan yang mungkin telah dinantikan bertahun-tahun.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar siapa yang diperbolehkan masuk ke dalam aula.
Ada perasaan seorang ayah. Ada harapan seorang ibu. Dan ada keinginan seorang anak untuk melihat kedua orang tuanya hadir pada hari yang dianggap sangat istimewa dalam hidupnya.
Ke depan, mungkin dapat dipertimbangkan format pelaksanaan yang tetap menjaga kapasitas dan ketertiban ruangan, namun memberi kesempatan kepada kedua orang tua untuk menyaksikan momen tersebut, misalnya melalui pengaturan sesi, tempat khusus, atau alternatif lain yang memungkinkan.
Sebab ada kebahagiaan yang terasa kurang lengkap ketika harus memilih salah satu.
Ketika seorang anak berhasil, ayah ingin melihat. Ibu pun ingin melihat. Dan seorang anak tentu ingin kedua orang tuanya berada di sana.
Bukan semata tentang siapa yang duduk di dalam aula.
Tetapi tentang dua orang yang mungkin telah berjuang sejak anak itu belum mengenal arti sebuah toga.
Di balik satu toga, ada doa ayah dan air mata ibu.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menuduh, menyalahkan atau menghakimi pihak tertentu. Tulisan ini merupakan refleksi atas situasi yang dirasakan sebagian orang tua yang ingin menyaksikan secara langsung momen penting anak mereka dalam prosesi wisuda.
Redaksi memahami bahwa pembatasan jumlah pendamping dapat memiliki alasan teknis, terutama terkait kapasitas ruangan, ketertiban dan kelancaran acara.
Namun, kegelisahan orang tua juga patut mendapatkan ruang untuk disampaikan. Sebab bagi mereka, wisuda bukan sekadar acara seremonial, melainkan buah dari perjalanan pendidikan yang melibatkan doa, pengorbanan dan perjuangan keluarga.
Karena itu, Ruang Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab kepada pihak STAI Al-Gazali Soppeng maupun panitia pelaksana untuk memberikan penjelasan mengenai ketentuan satu orang pendamping tersebut, termasuk dasar pertimbangan dan alasan penerapannya.
Dengan demikian, tulisan ini diharapkan menjadi ruang dialog, bukan penghakiman.
Redaksi tetap berpegang pada prinsip akurasi, keberimbangan dan hak jawab.
REDAKSI)
