Ketua LMP: “Ego Sektoral Jangan Sampai Mematikan Silaturahmi di Tanah Bugis”
SOPPENG - Open house Wakil Bupati Soppeng tahun ini bukan sekadar agenda halal bihalal biasa. Di mata banyak warga, kegiatan tersebut berubah menjadi simbol kuat bahwa pemimpin yang dekat dengan rakyat masih sangat dirindukan di tengah suasana sosial yang mulai dipenuhi sekat dan ego kelompok. Jumat 29/5/26
Ribuan masyarakat memadati lokasi open house sejak pagi hingga malam hari. Mereka datang dari berbagai latar belakang tanpa mempersoalkan perbedaan status sosial, pilihan politik, maupun kelompok. Suasana hangat, penuh canda dan dialog tanpa jarak menjadi pemandangan yang banyak disebut warga sebagai “suasana Soppeng tempo dulu” yang sarat nilai kekeluargaan.
Ketua Macab Laskar Merah Putih (LMP) Soppeng, Sahar, menilai antusiasme masyarakat tidak lahir secara tiba-tiba. Menurutnya, masyarakat mengenal betul perjalanan panjang Wakil Bupati Soppeng, Ir. Selle KS Dalle, yang tumbuh dari proses perjuangan mulai dari aktivis, legislator hingga kini menjadi pemimpin daerah.
“Beliau paham betul bagaimana menghargai masyarakat karena lahir dari proses panjang perjuangan. Orang yang pernah merasakan dinamika rakyat biasanya lebih tahu cara menjaga hubungan dengan masyarakat,” ujar Sahar.
Namun di balik suasana hangat tersebut, Sahar juga menyampaikan pesan sosial yang cukup tajam namun penuh makna. Ia mengingatkan agar kehidupan sosial masyarakat Bugis jangan sampai rusak hanya karena ego sektoral dan sekat-sekat kepentingan.
“Kadang yang merusak hubungan bukan persoalan besar, tapi ego yang terlalu tinggi. Ada yang merasa paling penting, ada yang sulit membuka ruang komunikasi. Akhirnya silaturahmi jadi renggang,” katanya.
Menurut Sahar, budaya Bugis sejak dahulu justru mengajarkan keterbukaan dan penghormatan terhadap sesama melalui nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.
“Orang Bugis itu besar bukan karena suka membangun jarak, tapi karena kuat menjaga hubungan. Jangan sampai ego sektoral membuat orang malas duduk bersama hanya karena beda pandangan atau beda lingkungan,” tegasnya.
Ia menilai open house tersebut menjadi gambaran bahwa pemimpin yang membuka ruang silaturahmi tanpa sekat akan selalu mendapat tempat di hati masyarakat.
“Rakyat sekarang bisa merasakan mana ketulusan dan mana formalitas. Kalau masyarakat datang tanpa dipanggil dan tanpa tekanan, itu tandanya ada rasa hormat yang tumbuh alami,” ujarnya.
Sahar juga menyinggung pentingnya menjaga komunikasi sosial di tengah situasi yang sering dipenuhi sindiran, polarisasi, dan persaingan kepentingan.
“Kalau ego lebih besar daripada silaturahmi, maka yang rugi bukan satu orang, tapi suasana kebersamaan kita semua. Soppeng ini kuat karena budaya saling menghargainya, bukan karena sekat-sekatnya,” katanya.
Suasana open house sendiri berlangsung cair dan penuh keakraban. Warga tampak bebas berdialog langsung, bersalaman, bahkan bercanda tanpa suasana protokoler yang kaku. Banyak masyarakat menyebut momen itu sebagai pengingat bahwa jabatan sejatinya bukan untuk meninggikan jarak sosial, melainkan untuk mempererat hubungan antarmanusia.
“Pemimpin yang baik itu bukan yang paling tinggi temboknya, tapi yang paling terbuka pintunya untuk rakyat,” tutup Sahar.



